KERANGKA SKRIPSI

rhTINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP MUDHARABAH SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANGTI BUNGA (STUDY PADA BANK SYARIAH MANDIRI CABANG PEMBANTU SIDOARJO)

BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Kajian pustaka 4
D. Tujuan Penelitian 4
E. Manfaat Peneliian 5
F. deskripisi operasional
g. metogologi penelitan
BAB II LANDASAN TEORI 6
A. Mudharabah 7
1. Definisi Mudharabah 7
2. Dasar Hukum Mudhararbah 8
3. Rukun dan syarat Mudharabah 9
4. Sistem dan Perhitungan Bagi Hasil 27
B. Bunga
1. Pengertian bunga
a) Larangan riba dalam Al-quran
b) Jenis-jenis riba
c) Jenis barang ribawi
2. Faktor yang mempengaruhi suku bunga
BAB III PENGKAJIAN DATA PENELITIAN 31
A. Definisi Operasional 31
B. Lokasi Penelitian 31
C. Jenis Penelitian 31
D. Jenis dan Sumber Data 31
E. Teknik Pengumpulan Data 32
F. Teknik Analisis Data 33
BAB IV ANSLISIS 34
A. Gambaran Umum Perusahaan 34
1. Sejarah Singkat Perusahaan 34
2. Visi dan Misi Bank Syariah Mandiri 36
3. Tujuan Didirikannya Bank Syariah Mandiri 37
4. Lokasi Perusahaan 37
5. Struktur Organisasi dan Job Description 38
6. Data Laporan Keuangan 45
7. Budaya Perusahaan 47
8. Prinsip Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu
Sidoarjo 49
9. Produk-Produk Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo 50
B. Pembahasan 53
1. Konsep Dasar Operasional PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo 53
2. Mekanisme Sistem Bagi Hasil 54
3. Pengalokasian Sumber Dana 58
4. Analisa Masalah 59
BAB V PENUTUP 64
A. Kesimpulan 64
B. Saran 64

A. Pengertian Mudharabah
Mudharabah menurut ahli fiqih ialah suatu perjanjiandimana seorang memberikan hartanya kepada orang lain berdasarkan prinsip dagang dimana keuntungan yang diperoleh akan dibagi berdasarkan porsi yang telah disetujui. Dan apabila mengalami kerugian maka pemilik modal yang menanggung.
 Menurut Imam Syafi’i Antonio, Mudharabah yaitu suatu perjanjian usaha antara pemilik modal dengan pengusaha dimana pihak pemilik modal menyediakan seluruh dana yang diperlukan dan pihak pengusaha melakukan pengolahan asa usaha.
 Adapun pengertian lainnya, Mudharabah yaitu akad kerja sama antara pemilik dana dengan pihak yang mempunyai keahlian atau keterampilan untuk mengelola usaha yang produktif dan halal, dimana pembagian hasil keuntungan dari usaha dilakukan sesuai dengan nisbah yang disepakati bersama.

B. Dasar Hukum Al-Mudharabah
Dasar hukum Al-Mudharabah yaitu :
1. Dalam teks Al-Qur’an
o Surat Al-Muzammil: 20

“Dan orang-orang yang berjalan dimuka Bumi mencari sebagian karunia Allah” .

o Surat Al-Jumuah: 10

“Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka Bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

o Surat Al-Baqarah: 198

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka pabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orng yang sesat”.

2. Dalam teks Hadist
o Diriwayatkan dari Suhaib ra.: “Bahwa Rasulullah bersabda” tiga perkara didalamnya terdapat keberkatan:
a. Menjual dengan pembayaran secara kredit
b. Muqaradhah (nama lain dari Mudharabah)
c. Mencampuri gandum dengan tepung untuk keperluan rumah tangga dan bukan untuk dijual”(HR. Ibnu Majah)
o Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa : Sayyida Abbas jikalau memberikan dana kemitra usahanya secara Mudharabah, ia mengisyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya dan membeli ternak yang paru-paru basah, jikalau menyalahi aturan maka yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut disampaikannya syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW dan diapun memperkenankannya (Majma ‘Azzawaid 4/161).

C. Syarat dan Rukun Mudharabah
1. Syarat-Syarat
a. Modal
1) Modal harus dinyatakan dengan jelas jumlahnya.
2) Modal harus dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
3) Modal harus diserahkan kepada Mudharib, untuk memungkinkannya melakukan usaha.
b. Keuntungan
1) Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam persentase dari keuntungan yang mungkin dihasilkan nanti.
2) Kesepakatan rasio presentasi harus dicapai melalui negoisasi dan dituangkan dalam kontrak.
3) Pembagian keuntungan baru dapat dilaksanakan setelah mudharib mengembalikan seluruh (atau sebagian) modal kepada Rab Al-‘Amal.
2. Rukun-Rukun
a. Ada pemilik dana.
b. Ada usaha yang akan dibagi hasil-hasilnya.
c. Ada nisbah.
d. Ada ijab qabul

ABSTRAK

Rahmawati, Indah. 2008. Analisis Sistem Mudharabah Sebagai Alternatif Pengganti Bunga (Study pada Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo). Skripsi tidak dipublikasikan Fakultas Ekonomi Universitas XXX.

Penelitian ini merupakan study pada PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo dengan judul “Analisis Sistem Mudharabah Sebagai Alternatif Pengganti Bunga”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem bagi hasil/mudharabah bisa dijadikan sebagai alternatif pengganti bunga pada PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo.
Dalam pembahasan, penulis menggunakan analisa deskriptif kualitatif dengan menggambarkan dan menjelaskan tentang prinsip operasional serta penerapan sistem mudharabah pada Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo.
Bagi hasil yang diterapkan dalam Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo merupakan sistem mudharabah dua tingkat, bagi hasil yang dilaksanakan oleh nasabah pengelola dengan bank dan nasabah penabung dengan bank. Besarnya porsi bagi hasil didasarkan kepada kesepakatan yang telah disetujui oleh pihak-pihak yang terikat pada saat persetujuan ini dibuat, mengingat semua pihak yang terlibat tidak berubah sampai kesepakatan itu berakhir. Adapun faktor yang mempengaruhi besar kecilnya pendapatan bagi hasil yang diperoleh deposan/penabung sebagai pihak ketiga antara lain : pendapatan bank, nisbah bagi hasil antara bank dengan nasabah, saldo rata-rata.
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat mengimplikasikan bahwa Bank Syariah Mandiri Cabang Pembantu Sidoarjo merupakan lembaga keuangan tanpa bunga/Bank Syariah yang mana salah satu prinsipnya yaitu keadilan dan kemitraan, dan lembaga ini memperoleh keuntungan secara adil dari apa yang dihasilkan dari upaya pengelolaan dana pihak ketiga berdasarkan prinsip kemitraan. Dan dapat diketahui bahwa bank berdasarkan bagi hasil jauh lebih menguntungkan dan memberi bagian keuntungan yang adil kepada semua pihak yang terlibat dan mampu menjadi alternatif pengganti bunga pada bank konvensional.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada tahun 1980 pemerintah mengeluarkan Pakto (Paket Oktober) yang mengatur deregulasi industri perbankan di Indonesia dan memperkenankan hadirnya bank-bank baru. Hal ini juga membawa angin segar bagi para pelaku bisnis dan ulama yang mulai ragu dengan bank-bank konvensional yang menerapkan sistem bunga sebagai dasar operasinya.
Kemudian pada tanggal 18-22 Agustus 1990 diadakan lokakarya ulama tentang bunga bank dalam industri perbankan yang menghasilkan suatu kesepakatan bahwa bunga bank termasuk riba, karena menurut syariah Islam riba adalah haram dan hal ini sesuai dengan surat Ar-Rum : 39 yang berbunyi : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia , maka riba tidak menambah pada sisi Allah”. Setelah diadakan lokakarya tersebut kemudian diikuti dengan dikeluarkannya UU RI No. 7/1992 tentang perbankan, dimana perbankan dengan sistem bagi hasil mulai diakomodasi, maka berdirilah PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang merupakan bank umum pertama yang berdasarkan pada prinsip syariah di Indonesia yang juga diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan yang lain.
Seiring dengan berjalannya waktu, lembaga-lembaga keuangan Islam mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Salah satu alasannya adalah karena adanya keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat muslim bahwa perbankan konvensional dengan sistem bunga mengandung unsur riba yang dilarang oleh agama. Apalagi di Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam dimana setiap muslim diwajibkan untuk bermuamalat sesuai dengan tuntutan Islam secara benar.
Pada tahun 1998 keluarlah UU No. 10/1998 tentang perbankan yang merupakan UU untuk penyempurna UU No. 7/1992 tentang perbankan. Dalam UU No. 10/1998 secara tegas mengakui bahwa perbankan syariah ditempatkan sebagai bagian dari sistem perbankan nasional. UU ini semakin membuka pintu yang seluas-luasnya bagi perbankan syariah untuk mengepakkan sayap usahanya.
Perbedaan yang paling mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional terletak pada pembagian keuntungan. Di dalam bank syariah nasabah menerima imbalan berupa bagi hasil dari keuntungan yang didapat dari pihak bank dari produk usaha yang dibiayai oleh bank, sehingga besarnya bagi hasil tersebut cenderung tidak tetap/berubah-ubah. Hal ini tergantung pada besarnya keuntungan yang didapat pihak bank. Sedangkan pada bank konvensional menggunakan bunga (interest) sebagai alat untuk memperoleh pendapatan maupun membebankan biaya atas penggunaan dana sehingga pemberian imbalan kepada nasabah berupa bunga yang besarnya telah ditentukan oleh pihak bank di awal perjanjian. Besarnya imbalan yang diperoleh nasabah tergantung pada saldo masing-masing nasabah yang dikalikan dengan tingkat bunga.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah riba, sehingga hukumnya haram. Meskipun demikian masih banyak pihak yang kurang yakin dengan sistem bagi hasil, karena adanya anggapan bahwa keuntungan yang didapat dari sistem bagi hasil kurang menjanjikan karena selalu mengalami fluktuasi mengikuti perkembangan laba yang diperoleh bank. Masalah tersebut muncul disebabkan karena rendahnya pemahaman masyarakat terhadap bentuk operasi bank syariah. Sehingga konsep perbankan syariah belum tersosialisasi pada kalangan umat, hal ini juga dipicu oleh keterbatasan informasi tentang eksistensinya bank syariah. Hal ini berpengaruh pada perolehan dana. Padahal kalau dikaji lebih dalam lagi bank konvensional yang menggunakan suku bunga sebagai prinsip kerja dalam perolehan dana ternyata lebih merugikan nasabah karena berapapun tingkat keuntungan yang diperoleh bank para nasabah tidak akan ikut menikmati.
Dengan berjalannya waktu pertumbuhan bank syariah semakin menunjukkan angka positif, sehingga mengilhami bank-bank konvensional untuk mengikuti dan menawarkan produk bank syariah. Alasan mereka bahwa produk bank syariah semata-mata bersifat komersial. Hal ini tercermin dari tindakan bank konvensional yang membuka “Islamic Windows” di dalam bank masing-masing dengan menawarkan produk Islam (Adiwarman, 2004 : 25). Yang dimaksud Islamic Windows disini adalah informasi tentang perbankan syariah yang bebas dari unsur riba yang dapat diakses melalui internet maupun teknologi informasi yang lain.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Sistem Mudharabah Sebagai Alternatif Pengganti Bunga”.

B. Rumusan Masalah
Dalam hal ini yang menjadi pokok masalah penelitian adalah :
1. Apakah penerapan sistem mudharabah dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bunga pada bank Syariah Mandiri ?
2. Apakah pengalokasian sumber dana dengan sistem bagi hasil, dan apakah dapat menghasilkan keuntungan yang lebih efisien dibandingkan dengan pengalokasian sumber dana dengan sistem bunga ?

C. Batasan Masalah
1. Pembahasan ditekankan kepada sistem dan mekanisme kerja serta prinsip operasional sistem mudharabah sebagai alternatif pengganti bunga serta bagaimana cara pengalokasian sumber dana dalam berbagai sektor.
2. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tahun 2004 – 2006.

D. Tujuan Penelitian
Secara garis besar, tujuan penelitian yaitu :
1. Untuk mengetahui apakah penerapan sistem mudharabah dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bunga.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengalokasian sumber dana dan juga untuk mengetahui apakah pengalokasian sumber dana dengan sistem bagi hasil dapat menghasilkan keuntungan yang lebih efisien.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan diharapkan akan bermanfaat :
1. Bagi penulis
Dengan adanya penelitian ini penulis dapat memperoleh wawasan dan gambaran mengenai praktek-praktek perbankan syariah khususnya pada sistem mudharabah.
2. Bagi perusahaan
Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan informasi bagi perusahaan untuk mensosialisasikan sistem mudharabah pada masyarakat umum yang kurang mengetahui tentang produk-produk dan mekanisme kerja bank syariah serta mensosialisasikan bagaimana cara pengalokasian sumber dana sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara nasabah dan bank.
3. Bagi almamater
a. Bagi masyarakat awam yang belum memahami sistem bagi hasil maka diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat mengenai produk-produk dan mekanisme kerja bank syariah.
b. Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang mengambil topik yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: