SEJARAH PERADABAN DAN PENGUMPULAN AL-QUR’AN MASA KHULAFA URRASYIDIN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak sekali hasilnya dari zaman dahulu sampai sekarang mengenai kebudayaan Islam yang terus-menerus berkembang, misalkan saja dalam sejarah kehidupan Rasulullah Saw, yang telah menyebarkan agama Islam di dunia ini. Banyak kita temui mengenai kepribadian yang seluruh kehidupannya di curahkan untuk agama Allah, dan Beliau di kenal sebagai orang yang banyak berpikir dan memikirkan masyarakat secara serius, dengan keteguhan dan kekuatan kepribadiannya, Nabi merubah pikiran-pikiran, adat-adat dan moral orang-orang Arab. Ia merubah orang kasar menjadi beradab.
Sebelum menginjak kemana-mana, disini pemakalah ingin mengulas sedikit mengenai sejarah peradaban Islam pada masa khulafaur rasyidin yang dimana peradaban tersebut bersumber pada Islam itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. sejarah peradaban islam pada masa khulafaur rasyidin.
2. pengumpulan alqur’an pada masa khulafaur rasyidin

BAB II
Pembahasan
A. ISLAM. PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN.
Kaum muslimin mengetahui bahwa khalifah pertama dalam sejarah Islam adalah Abu Bakar ra, akan tetapi mayoritas kaum muslimin saat ini, tidak mengetaui bahwa Sultan ‘Abdul Majid II adalah khalifah terakhir yang dimiliki oleh umat Islam, pada masa lenyapnya Daulah Khilafah Islamiyyah akibat ulah Musthafa Kamal yang menghancurkan sistem kilafah dan meruntuhnya Dinasti ‘Utsmaniyyah. Fenomena initerjadi pada tanggal 27 Rajab 1342 H.
Dalam sejarah kaum muslimin hingga hari ini, pemerintah Islam di bawah institusi Khilafah Islamiah pernah dipimpin oleh 104 khalifah. Mereka (para khalifah) terdiri dari 5 orang khalifah dari khulafaur raasyidin, 14 khalifah dari dinasti Umayyah, 18 khalifah dari dinasti ‘Abbasiyyah, diikuti dari Bani Buwaih 8 orang khalifah, dan dari Bani Saljuk 11 orang khalifah. Dari sini pusat pemerintahan dipindahkan ke kairo, yang dilanjutkan oleh 18 orang khalifah. Setelah itu khalifah berpindah kepada Bani ‘Utsman. Dari Bani ini terdapat 30 orang khalifah. Umat masih mengetahui nama-nama para khulafaur rasyidin dibandingkan dengan yang lain. Walaupun mereka juga tidak lupa dengan Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz, Harun al-rasyid, Sultan ‘Abdul Majid, serta khalifah-khalifah yang masyur dikenal dalam sejarah

Adapun nama-nama para khalifah pada masa khulafaur Rasyidin sebagai berikut:
1.Abu Bakar ash-Shiddiq Ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
2.‘Umar bin khaththab Ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
3.‘Utsman bin ‘Affan Ra (tahun 23-35 H/644-656 M).
4. Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M)
Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam.Sekali lagi terjadi dalam sejarah kaum muslimin, hilangnya kekhalifahan. Sayangnya, kaum muslimin saat ini tidak terpengaruh, bahkan tidak peduli dengan runtuhnya kekhilafahan. Padahal menjaga kekhilafahan tergolong kewajiban yang sangat penting. Dengan lenyapnya institusi kekhilafahan, mengakibatkan goncangnya dunia Islam, dan memicu instabilitas di seluruh negeri Islam. Namun sangat disayangkan, tidak ada (pengaruh) apapun dalam diri umat, kecuali sebagian kecil saja.Jika kaum muslimin pada saat terjadinya serangan pasukan Tartar ke negeri mereka, mereka sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa ada khalifah, maka umat Islam saat ini, telah hidup selama lebih dari 75 tahun tanpa keberadaan seorang khalifah. Seandainya negara-negara Barat tidak menjajah dunia Islam, dan seandainya tidak ada penguasa-penguasa muslim bayaran, seandainya tidak ada pengaruh tsaqofah, peradaban, dan berbagai persepsi kehidupan yang dipaksakan oleh Barat terhadap kaum muslimin, sungguh kembalinya kekhilafahan itu akan jauh lebih mudah. Akan tetapi kehendak Allah berlaku bagi ciptaanNya dan menetapkan umat ini hidup pada masa yang cukup lama.
Umat Islam saat ini hendaknya mulai rindu dengan kehidupan mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Insya Allah Daulah Khilafah itu akan berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah “…kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”. Kami dalam hal ini tidak hanya yakin bahwa kekhilafahan akan tegak, lebih dari itu, kota Roma (sebagai pusat agama Nashrani) dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin setelah dikalahkannya Konstantinopel yang sekarang menjadi Istambul. Begitu pula daratan Eropa, Amerika, dan Rusia akan dikalahkan. Kemudian Daulah Khilafah Islamiyah akan menguasai seluruh dunia setelah berdirinya pusat Daulah Khilafah. Sungguh hal ini dapat terwujud dengan Izin Allah. Kita akan menyaksikannya dalam waktu yang sangat dekat.
B. PENGUMPULAN AL-QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
1. Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Abu Bakar
Setelah Nabi wafat kaum muslimin mengangkat Abu Bakar Shiddik menggantikan beliau sebagai khalifah yang pertama pada masa permulaan. Kekhalifahan pemerintahan Abu Bakar timbul suatu keadaan yang mendorong pengumpulan ayat – ayat Al – Qur’an dalam satu mushaf. Keadaan itu ialah sebagian besar orang – orang yang hafa Al – Qur’an gugur syahidah dalam perang Yamamah. Timbullah kekhawatiran akan hilangnya beberapa ayat dari Al – Qur’an, jika semua huffazhul Qur’an sudah tidak ada lagi. Yang mula – mula sadar akan hal ini ialah Umar bin Khatab, lalu beliau mengingatkan khalifah akan bahaya yang mengancam keutuhan Al – Qur’an. Umar menyarankan supaya khalifah mengambil langkah – langkah untuk mengamankan Al – Qur’an, yaitu dengan mengumpulkan ayat – ayat Al – Qur’an dalam satu mushaf. Umar bin Khatab pergi ke khalifah Abu Bakar dan bermusyawarah dengannya dalam hal itu salah satu yang diucapkan Umar adalah : “Saya berpendapat lebih baik anda memerintahkan manusia untuk mengumpulkan Al – Qur’an”. Abu Bakar menjawab : “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw”. Umar balas menjawab : “Ini demi Allah akan membawa kebaikan”. Umar masih terlibat dialog dengan Abu Bakar sehingga Allah melapangkan dada Abu Bakar (menerima usulan Umar).
Lalu Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit sembari berkata padanya : “Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang berakal cerdas dan konsisten. Engkau telah menulis wahyu di zaman Rasulullah saw, maka aku memintamu untuk mengumpulkannya”. Zaid menjawab : “Demi Allah, seandainya engkau memaksaku untuk memindahkan satu gunung dari gunung yang lain maka itu tidak lebih berat bagiku daripada perintahmu kepadaku mengumpulkan Al – Qur’an”. Aku berkata : “Bagaimana engkau melakukan sesuatu yang belum pernah Rasulullah saw?” Dia menjawab : “Demi Allah, itu membawa kebaikan”. Abu Bakar senantiasa “membujukku” hingga Allah melapangkan dadau, sebagaimana sebelumnya Dia melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Maka akupun mulai mencari AL – Qur’an, kukumpulkan ia dari pelepah kurma, kepingan – kepingan batu dan dari hafalan – hafalan para penghapal, sampai akhirnya akan mendapatkan akhir surat Taubah erada pada Abu Khuzaimah Al – Ansari. Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati – hati.
2. Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Umar bin Khatab
Pada masa khalifah Umar bin Khatab kegiatan penyiaran dan dakwah Islam demikian pesat sehingga daerah khalifah Islam sampai ke Mesir dan Persia Khalifah Umar bin Khattab mengarahkan pada kegiatan dakwah tersebut. Kumpulan Al – Qur’an yang disimpan oleh Abu Bakar kemudian disimpan oleh Umar hanya disalin menjadi satu shuhuf. Hal ini dimaksudkan agar Al – Qur’an yang telah dikumpulkan itu terpelihara dalam bentuk tulisan yang original atau bersifat standarisasi. Pada masa itu masihbanyak para sahabat yang hafal Al – Qur’an yang dapat mengajarkannya kepada para sahabat yang lain.
Setelah Umar wafat shuhuf itu disimpan oleh Hafsah Bin Umar denangan pertimbanga bahwa Hafsah adalah istri Nabi Muhammad saw dan putri Umar yang pandai membaca dan menulis.

3. Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Usman
Pada masa khalifah Usman bin Affanm timbul hal – hal yang menyadarkan khalifah akan perlunya memperbanyak naskah shuhuf dan mengirimkannya ke kota – kota besar dalam wilayah negara Islam, kesadaran ini timbul karena para huffazal Qur’an telah bertebaran ke kota – kota besar dan diantara mereka terdapat perbedaan bacaan terhadap beberapa huruf dari Al – Qur’an. Karena perbedaan dialek bahasa mereka. Selanjutnya masing – masing menganggap mereka bacaannya yang lebih tepat dan baik Berita perselisihan itu sampai ketelinga Usman dan beliau menganggap hal itu sebagai sumber bahaya besar yang harus segera diatasi. Beliau memintan kepada Hafsah binti Umar supaya mengirimkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya.
Kemudian khalifah menugaskan : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin (membukukan) menjadi beberapa shuhuf.
Setelah selesai penghimpunannya, mushaf asli dikembalikan ke Hafsah dan tujuh mushaf yang telah disalin, masing – masing dikirimkan ke kota – kota Kufah, Bashrah, Damaskus, Mekah, Madinah dan Mesir, khalifah meninggalkan sebuah dari tujuh mushaf itu untuk dirinya sendiri. Dalam penyalinan (pembukuan) Al – QUR’an itu dimana amat teliti dan tegas, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Jarir mengatakan berkenaan apa yang telah dilakukan Usman “Ia telah menyatukan umat Islam dalam satu mushaf dan satu shuhuf, sedangkan mushaf yang lain di sobek.
C. SEJARAH PERUNDANGAN ISLAM DI MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Zaman ini pula merangkumi zaman khalifah yang empat iaitu Abu Bakar r.a, Umar ibn al-Khaţţāb, Uthman ibn al-Affān dan juga Ali ibn Abi Tālib . Zaman ini bermula selepas kewafatan baginda yang bermula pada tahun 11 Hijrah sehinggalah kewafatan khalifah al-Rāsyidin yang keempat iaitu Ali bin Abi Tālib pada tahun 40 Hijrah . Jawatan Khalifah Islam Pertama di sandang oleh Abu Bakar al-Siddiq dan diikuti oleh Umar ibn al-Khaţţāb, Uthman Ibn al-Affān dan selepas itu Ali ibn Abi Talib. Perundangan pada zaman Khalifah al-Rāsyidin ini juga masih berpegang kuat kepada al-Quran dan Hadis. Ijtihad hanya akan digunakan apabila tiadanya nas di dalam kedua-dua sumber tersebut

1. Metodologi Perundangan
Cara-cara khalifah al-Rāsyidin apabila muncul masalah-masalah hukum ialah mereka akan terus merujuk kepada al-Quran. Seandainya mereka menemui nas yang terkandung di dalam al-Quran mengenai masalah tersebut, mereka akan menghukum menggunakan nas tersebut. Ini adalah bertepatan dengan firmanNya: Al-nisa 59
Seterusnya, setelah merujuk al-Quran, tetapi tiada nas yang menyebut tentang masalah tersebut mereka akan merujuk kepada Hadis serta fatwa-fatwa Rasulullah. Selain daripada itu, mereka juga turut mengadakan perbincangan dengan sahabat-sahabat lain sama ada ada di kalangan mereka yang mengetahui atau mendengar tentang hadis-hadis Rasulullah s.a.w mengenai perkara tersebut. Sekiranya ada, mereka akan menghukum dengan perkara tersebut. Hal ini juga bertepatan dengan FirmanNya: Al-Nisa 59.
Kemudian, setelah mengkaji di dalam al-Quran, Hadis, dan juga bertanya kepada para sahabat yang lain tentang hadis ataupun fatwa Baginda s.a.w dan tiada di antara mereka yang mengetahui tentangnya, meraka akan mengadakan mesyuarat di antara ahli Fiqh dan juga Sahabat untuk membincangkannya. Sekiranya terdapat persepakatan, mereka akan menghukum berdasarkan persepakatan tersebut. Persepakatan ini dikenali sebagai Ijma’ sahabat. Ia juga adalah salah satu sumber hukum dan dalil kepada permasalahan yang timbul.
Seterusnya mereka akan berijtihad berpandukan al-Quran dan Hadis sekiranya tiada nas yang jelas tentang sesuatu permasalahan pada ketika itu. Ini adalah kerana pada ketika itu, banyak masalah baru yang telah lahir dan tiada nas menyebut tentangnya. Permasalahan-permasalahan tersebut juga tidak pernah berlaku pada zaman Rasulullah s.a w, maka, tiada Hadis juga yang menyebut tentang permasalahan tersebut. Justeru itu, jalan terbaik untuk para sahabat menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan berijtihad.

2. Sumber-Sumber Perundangan
Terdapat empat sumber perundangan yang digunakan pada zaman Khalifah al-Rāsyidin iaitu:
a. Al-Quran
Pada zaman Abu Bakar, telah terjadi peperangan al-Yamamah yang menyebabkan ramai kaum muslimin mati syahid termasuklah 70 orang di antaranya yang terdiri daripada penghafaz al-Quran. Umar yang mengetahui tentang perkara ini telah mencadangkan kepada Khalifah Abu Bakar supaya mengumpulkan al-Quran di dalam satu Mushaf. Walaupun pada mulanya beliau kurang bersetuju kerana perkara itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w tetapi, apabila beliau mendapati banyak kebaikan daripada cadangan tersebut. Beliau akhirnya memerintahkan Zaid bin Thabit untuk mengetuai pengumpulan tersebut dan membentuk jawatankuasa untuk membantu Zaid. Mereka menyalin ayat-ayat al-Quran tersebut dan membandingkannya dengan hafalan para sahabat yang lain.
Pada Zaman pemerintahan khalifah Uthman ibn al-Affan pula telah berlakunya penulisan al-Quran. Empat orang sahabat yang terlibat dengan penulisan al-Quran iaitu Zaid ibn Thabit, Abdullah ibn al-Zubair, Sa’ad ibn al-As dan Abdul Rahman ibn al-Harith telah menyalin semula mashaf yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar. Setelah siap di salin, salinan-salinan mashaf itu di hantar ke setiap wilayah Islam iaitu Kufah, Basrah, Damsyiq, Mekah dan juga Madinah. Mushaf-mushaf selainnya dibakar atas arahan khalifah Uthman ibn Affan. Beliau sendiri turut menyimpan satu mushaf yang dikenali sebagai Mushaf al-Imam.

b. Hadis
Sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam al-Quran, hadis adalah sumber kedua dalam menetapkan hukum. Oleh yang sedemikian, pada zaman Khalifah al-Rasyidin ini juga, Hadis turut menjadi sumber kedua selepas al-Quran dalam perundangan Islam pada ketika itu. Di antara contoh-contoh yang menunjukkan bahawa Khalifah al-Rasyidin berhujah menggunakan Hadis Rasulullah s.a.w ialah pada zaman pemerintahan Abu Bakar, seorang nenek telah datang bertemu beliau yang mendakwa dia berhak mendapat pusaka. Beliau telah berkata kepada nenek tersebut bahawasanya beliau tidak menjumpai di dalam al-Quran tentang nas yang menyebut mengenai pusaka yang patut diterima oleh nenek tersebut. Beliau juga telah memberitahu nenek tersebut yang beliau tidak tahu mengenai hukum terhadap perkara perwarisan tersebut walaupun dari Rasulullah sendiri.
Oleh itu, Abu Bakar telah bertanya kepada para sahabat yang lain mengenai hak perwarisan dan al-Mughirah ibn Syu’bah bangun dan berkata: Maksudnya: Daku hadir bersama rasulullah s.a.w, lalu Baginda memberikan kepadanya (nenek itu) 1/6 daripada harta pusakanya. Serentak dengan itu, Muhammad ibn Maslamah telah memberi saksi bahawa apa yang dikatakan oleh Mughirah adalah benar dan ekoran daripada itu, Abu Bakar telah menghukum bahawa nenek tersebut mendapat 1/6 daripada harta pusaka .
Selain daripada Khalifah Abu Bakar, Uthman juga turut berhujah dengan hadis sepertimana Abu Bakar. Contohnya, pernah di suatu ketika Uthman telah pergi ke tempat mengambil wuduk dan meminta di ambilkan air untuk berwuduk. Kemudian, beliau telah berkumur dan membasuh hidung, membasuh muka 3 kali, kedua-dua belah tangan sebanyak tiga kali, menyapu air ke kepala sebanyak tiga kali dan membasuh kedua kaki sebanyak 3 kali dan beliau berkata bahawa beliau telah melihat Rasulullah berwuduk sedemikian. Ini menunjukkan bahawa beliau juga melakukan sesuatu dan menghukumkan sesuatu berdasarkan Sunnah Rasulullah s.a.w
c. Ijma’
Ijma’ ialah persepakatan di kalangan para mujtahid mengenai sesuatu hukum syarak. Perselisihan hukum pada zaman khalifah al-Rasyidin berbeza sedikit berbanding dengan zaman selain mereka kerana apabila dikemukakan masalah hukum, mereka akan bermesyuarat untuk mendapatkan fatwa. Jika berlaku perselisihan, mereka akan cuba berbincang untruk mendapatkan persepakatan yang mana ia dinamakan Ijma’.
Pada ketika ini juga, para khalifah senang untuk bersepakat kerana beberapa faktor. Di antaranya ialah kerana sebilangan besar dari mereka tinggal di satu tempat sahaja dan ini memudahkan mereka untuk berkumpul dan mencapai persepakatan. Selain daripada itu, periwayatan hadis juga belum tersebar luas dan hal ini menyebabkan kurangnya percanggahan terhadap sesuatu hukum. Seterusnya, sumber-sumber perundangan pada ketika itu hanyalah sumber yang disepakati sahaja iaitu al-Quran, Hadis, Ijma’ dan juga al-Qiyas. Ini menyebabkan para sahabat hanya kerap merujuk kepada keempat-empat sumber ini sahaja. Sikap sahabat yang amat berhati-hati dan warak juga turut menjadi salah satu faktor kurangnya perselisihan dan terbentuknya persepakatan di antara mereka.
Walaupun kadangkala terdapat juga perselisihan yang berlaku, namun, mereka tidak mudah memperkecilkan pendapat sahabat yang lain, sebaliknya mereka akan cuba mempertimbangkannya dengan tidak menolaknya bulat-bulat
d. Ijtihad
Ijtihad juga adalah salah satu sumber perundangan pada zaman Khalifah al-Rasyidin. Walaupun semasa hayat baginda Rasulullah s.a.w baginda lebih berkuasa untuk berijtihad, namun, baginda turut mengamanahkan para sahabat yang tertentu untuk berijtihad. Contohnya ialah ijtihad Ali ibn abi Talib terhadap satu perselisihan ketika Baginda s.a.w mengutuskan beliau ke Yaman dan bersabda: Maksudnya: Sesungguhnya Allah S.W.T akan memberi petunjuk ke dalam hatimu dan mnetapkan lidah mu.
Sekalipun ijtihad adalah sumber perundangan, namun, hukum-hukum yang di bina berdasarkan ijtihad ini kadangkala bercanggah kerana berbezanya pandangan atau pendapat di antara sahabat.

3. Keistimewaan Perundangan
Di antara keistimewaan prundangan pada zaman Khalifah al-Rasyidin ialah :
a) Telah berlakunya pengumpulan dan pembukuan al-Quran sepenuhnya. Setiap salinan dikirimkan ke setiap wilayah Islam supaya tidak berlaku perpecahan yang mungkin terjadi disebabkan oleh perselisihan dalam pembacaannya.
b) Manakala hadis pada ketika itu belum lagi menjalani proses yang sama sepertimana al-Quran sebaliknya masih berselerak, di hafal oleh para sahabat dan periwayatannya hanya secara lisan. Periwayatan hadis pada ketika itu juga masih belum meluas ekoran daripada tindakan para Khalifah al-Rasyidin yang menetapkan syarat yang ketat sebelum menerima sesebuah hadis.
c) Pada zaman ini juga telah terbentuknya satu sumber perundangan lain selain al-Quran dan hadis iaitu Ijma para sahabat yang juga menjadi salah satu sumber yang wajib diikuti

BAB III
KESIMPULAN
Umat Islam saat ini hendaknya mulai rindu dengan kehidupan mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Insya Allah Daulah Khilafah itu akan berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah “…kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”. Kami dalam hal ini tidak hanya yakin bahwa kekhilafahan akan tegak, lebih dari itu, kota Roma (sebagai pusat agama Nashrani) dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin setelah dikalahkannya Konstantinopel yang sekarang menjadi Istambul. Begitu pula daratan Eropa, Amerika, dan Rusia akan dikalahkan. Kemudian Daulah Khilafah Islamiyah akan menguasai seluruh dunia setelah berdirinya pusat Daulah Khilafah. Sungguh hal ini dapat terwujud dengan Izin Allah. Kita akan menyaksikannya dalam waktu yang sangat dekat.
Kekhalifahan pemerintahan Abu Bakar timbul suatu keadaan yang mendorong pengumpulan ayat – ayat Al – Qur’an dalam satu mushaf. Keadaan itu ialah sebagian besar orang – orang yang hafal Al – Qur’an gugur syahidah dalam perang Yamamah. Timbullah kekhawatiran akan hilangnya beberapa ayat dari Al Qur’an dan untuk khalifah yang selanjutnya melanjutkan pengumpulan al-Qur’an pada masa khulafaur rasyidin

6 responses to this post.

  1. Posted by vian on November 3, 2009 at 3:07 am

    aku minta yang lengkap dong makalahnya

    Balas

  2. Posted by ritaul on Maret 9, 2010 at 3:31 am

    makasih file nya sudah masuk di email q,,,

    Balas

  3. Posted by ana on Agustus 19, 2010 at 4:23 pm

    syukran ya, jadi nambah pgetahuan tntg islam

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: