pasar uang dan modal

Persamaan

Pasar uang dan pasar modal mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan. Saya akan mulai dengan persamaannya terlebih dahulu. Pertama, keduanya adalah bagian dari pasar keuangan (financial market). Dalam ilmu ekonomi, setidaknya ada tiga pasar utama yang menunjang perekonomian suatu negara yaitu pasar keuangan, pasar barang dan jasa (goods and services), dan pasar tenaga kerja (labor).

Sejalan dengan tiga pasar itu, investasi pun dapat dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu investasi di pasar keuangan, di sektor riil (wiraswasta dan investasi dalam tanah dan properti), dan investasi dalam pendidikan dan keterampilan (pelatihan dan studi lanjut).

Kedua, pasar uang dan pasar modal menjalankan fungsi yang sama yaitu fungsi pasar keuangan yakni menjembatani para kas surplus yang minim atau tidak punya proyek investasi dengan para kas defisit yang memiliki banyak peluang investasi.

Pasar uang dan pasar modal merupakan sumber pembiayaan untuk mereka yang kas defisit, dan tempat investasi yang utama untuk yang kas surplus. Tanpa adanya kedua pasar itu, alternatif pembiayaan hampir tidak ada sementara alternatif investasi menjadi sangat terbatas yaitu hanya dalam tanah, rumah, emas, dan ternak seperti seabad lalu. Di Indonesia pasar uang mulai dikenal dengan didirikannya bank pada 1920-an sementara bursa efek (BEJ) baru didirikan pada 1977 dan mulai ramai sekitar 1989.

Pada tahun itu, jumlah saham tercatat melonjak tajam dari 24 pada 1988 menjadi 56 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp4,3 triliun dan transaksi harian menembus Rp3,9 miliar. Angka itu terus naik hingga akhir 2007 dengan 382 saham tercatat, kapitalisasi pasar sebesar Rp1.982,7 triliun dan transaksi harian Rp4,3 triliun.

Ketiga, berbeda dengan investasi di sektor properti dan tanah yang relatif kurang likuid, produk pasar uang dan pasar modal relatif likuid. Ada pasar sekunder untuk saham dan obligasi yaitu BEI. Dana yang tersimpan dalam deposito dan sertifikat deposito dengan mudah dapat dicairkan, jika dibutuhkan, walaupun kadang ada biaya penaltinya.

Perbedaan

Walaupun mempunyai tujuan yang sama, pasar uang dan pasar modal sarat dengan perbedaan. Pertama, produk pasar uang bersifat jangka pendek yaitu kurang dari 270 hari dengan empat produk utamanya yaitu tabungan, (sertifikat) deposito, SBI, dan commercial paper (CP), sedangkan pasar modal bersifat jangka panjang dengan tiga produk utamanya saham, obligasi, dan reksa dana.

Kedua, pasar uang ada di bank sedangkan transaksi pasar modal yang awalnya hanya dapat dilakukan di lantai bursa, kini dapat dilaksanakan di hampir semua kantor perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa (AB) di BEI. Dengan remote trading, Anda cukup datang atau menelpon kantor cabang AB yang ada di kota Anda untuk bertransaksi saham.

Yang lebih canggih lagi, ada dua AB yang menawarkan fasilitas perdagangan di jari tangan Anda yaitu transaksi (beli dan jual) saham langsung dari komputer di rumah atau kantor Anda. Hampir sama dengan m-banking via Internet. Karena tidak memerlukan jasa broker, biaya transaksi menjadi jauh lebih rendah yaitu 0,06%-0,11% lebih rendah dari biaya transaksi melalui broker, baik untuk transaksi beli maupun transaksi jual.

Ketiga, otoritas paling tinggi dalam pasar uang adalah Bank Indonesia sementara dalam pasar modal adalah Departemen Keuangan melalui Badan Pengawas Pasar Modal. Keempat, produk pasar modal mempunyai beberapa produk turunan yaitu opsi, warrant, dan right, selain reksa dana. Adapun produk turunan pasar uang hanyalah reksa dana pasar uang yang juga diperdagangkan di pasar modal.

Kelima, produk pasar modal, karena bersifat jangka panjang, umumnya ada pasar sekundernya sementara produk pasar uang dengan sifat jangka pendeknya, tidak selalu ada pasar sekundernya (non-marketed) kecuali SBI dan CP. Ini mestinya membuat investasi di pasar modal lebih menarik karena lebih likuid. Masalahnya, adanya pasar sekunder membuat harga saham dan obligasi bisa naik-turun seperti yoyo. Inilah yang disebut risiko pasar.

Perbedaan terakhir berhubungan dengan perbedaan kelima. Produk kedua pasar berbeda dalam hal risiko dan return-nya. Dibandingkan dengan produk pasar uang yang harga dan return-nya stabil dan pasti, produk pasar modal lebih berisiko namun menjanjikan return yang lebih tinggi.

Pengalaman saya menjelaskan kedua pasar di atas biasanya ada saja yang langsung menanyakan tentang ORI dan reksa dana yang saat ini juga marak dijual di bank. Jika keduanya produk pasar modal kenapa dijualnya di bank yang konotasinya hanya menawarkan produk pasar uang?

Jawabannya adalah sama seperti bank menjual produk asuransi, dalam penjualan ORI dan reksa dana, bank hanya bertindak sebagai agen penjual yang hanya mendapatkan komisi atas jasa penjualannya.

ORI dan reksa dana jelas adalah produk pasar modal, dan bukan produk bank, yang mengandung risiko pasar yaitu risiko yang timbul akibat perubahan kondisi pasar seperti turun-naiknya suku bunga dan nilai tukar. Dengan pemahaman ini, redemption besar-besaran reksa dana dari Rp110,8 triliun menjadi Rp26,2 triliun (-76,3%) seperti pada Februari 2005 mestinya tidak terjadi lagi. dikutip dari http://web.bisnis.com/kolom/2id991.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: